Archive for the ‘Islam’ Category

10 Pedoman Hukum Untuk Mengurangi Radikalisme Islam di Indonesia. 10 Laws to Minimize Radicalism in Indonesian Islam.

Tuesday, September 27th, 2011

Mayoritas Muslim Indonesia adalah baik dan berhaluan moderat. Sayangnya, segelintir orang yang berhaluan keras, berusaha keras untuk menunjukkan eksistensinya dan memperluas pengaruhnya melalui perbuatan yang tak terpuji (ie: terror,dll). Apakah yang membuat kelompok radikal semakin berani melakukan terror di Indonesia? Tentunya banyak faktor2 seperti:

  • Lemahnya penegakan hukum
  • Rendahnya tingkat pendidikan dan lapangan kerja
  • Lemahnya pemahaman ideologi Pancasila
  • Kurangnya dialog antar umat beragama
  • Kurangnya pemahaman agama
  • Ketidakpuasan terhadap pemerintah
  • Kesenjangan ekonomi

Inilah rangkuman kritik, pertanyaan dan saran2 yang ditujukan kepada kelompok Islam Radikal:

1) Amalkan jiwa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dengan benar, bukan hanya sebatas hafalan dan pemahaman saja.

Pendiri negeri kita sudah mengetahui bahaya SARA, dan Pancasila adalah penangkal bahaya tersebut.

Perlu ditingkatkan kesadaran akan Pluralisme, jiwa KEMANUSIAAN yang riil, PERSATUAN bangsa, Toleransi atas Perbedaan, Solidaritas Bhinneka Tunggal Ika, Kerukunan dan Kedamaian bangsa, dan Penghormatan Hak Asasi Manusia.

Seorang yang Pancasialis bisa bersikap toleran, tolong-menolong, hidup yang harmonis, dan dinamis dengan sesama umat manusia tanpa memandang agama, bahasa, dan ras mereka. Hendaklah kamu menjalin kebersamaan, mempererat tali persaudaraan dengan umat beragama lainnya, bukan menghancurkan agama lainnya.

Arti toleransi:

  • Secara etimologi, toleransi adalah kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan dada.
  • Sedangkan menurut istilah (termologi), toleransi adalah bersifat atau bersikap tenggang rasa dan sikap kerjasama terhadap orang yang berbeda agama dengan kita, atau yang bertentangan dengan kepribadiannya dengan kita.
  • toleransi adalah “to endure without protest” (menahan perasaan tanpa protes)
  • memberikan kebebasan, mendiamkan, membiarkan, tidak memaksakan, TIDAK MENGHAMBAT, tidak mendiskriminasi kelompok yg BERBEDA.
  • Dalam arti Islam, kata “tasamuh” dalam al-Qamus al-Muhith, berarti mempermudah, memberi kemurahan dan keluasan. Ini menunjukkan sikap pemurah, penderma, dan gampangan.  Sifat mempermudah dan tidak membebankan seseorang.

Prinsip toleransi:

  • mampu mengakui, menghormati, dan menghargai segala bentuk perbedaan di sekeliling kita.
  • mampu toleran terhadap perbedaan dan tidak memusuhi orang yang berbeda
  • bukanlah berarti menyamakan perbedaan yang ada, melainkan kesadaran akan adanya perbedaan.
  • tidak mempersoalkan perbedaan. Sebaliknya, kemajemukan dalam prinsip toleransi justru menjadi sarana bagi satu sama lain di antara kita untuk memperkaya budaya dan memajukan kehidupan.
  • mengedepankan Antusiasme kita dalam berbuat kebaikan sebanyak mungkin dan meninggalkan perbuatan melanggar hukum atau kejahatan sejauh mungkin.
  • doesn’t really mean that you should treat someone else exactly as you’d want them to treat you … it means that you should try to imagine how they want to be treated, and do that.
  • put yourself in their shoes, ask yourself how you think they want to be treated. Ask yourself how you would want to be treated if you were in their situation.

Obey and test your thinking/action against The Golden Rule

  1. (Positive form): TREAT OTHERS AS YOU WANT TO BE TREATED
  2. (Negative/prohibitive form, also called The Silver Rule): One should not treat others in ways that one would not like to be treated.

The Golden Rule or ethic of reciprocity is best seen as a consistency principle.
It only prescribes consistency — that we not have our actions (toward another) be out of harmony with our desires (toward a reversed situation action). It tests our moral coherence. If we violate the golden rule, then we’re violating the spirit of fairness and concern that lie at the heart of morality.

Janganlah anda menuduh orang lain ber-DOUBLE STANDARD, padahal dirimu sendiri juga ber-DOUBLE STANDARD. Semua orang tidak suka pada orang yang ber-DOUBLE STANDARD. Artinya, “Di satu sisi, dia tidak menyukai A. Tapi di sisi lain, dia sendiri melakukan A”. Atau “Di satu sisi, dia menyarankan/mengutuk A. Tapi di sisi lain, dia juga meyarankan/mengutuk B (lawannya A)”.

Inilah ciri2 orang yang suka ber-DOUBLE STANDARD:

  • pemikiran/kelakuannya selalu gagal pada ujian the Golden Rule.
  • orang yang egois – mementingkan dirinya sendiri, tanpa memperdulikan orang lain
  • orang yang mau menangnya sendiri dan mau menang terus.  Inilah ciri2nya:
    • Mereka merasa yang PALING benar, paling hebat, paling suci, paling sempurna, jalannya paling lurus, dll. Dan yang lainnya adalah yang salah dan sesat.
    • Mereka sangat sensitif emosionalnya, mudah tersinggung dan cepat marah.
    • Mereka tidak mau mengalah
    • Mereka adalah pembalas dendam sejati. Meskipun kalah terus, mereka selalu merancangkan pembalasan.
    • Mereka suka iri hati
    • Mereka tidak suka direndahkan atau dibeberkan kejelekannya, tapi suka membanggakan diri (full of pride) dan sombong hati.

2) Jangan terlalu mudahnya menjadikan orang lain sebagai “musuh kafir”mu.

Pokoknya yang tidak sesuai dengan keyakinannya dianggap “kafir”. Pokoknya yang tidak melakukan hukum Islam dianggap “kafir”. Jika dibuat terlalu over-generalised, banyak orang yang tak bersalah/berdosa yang termasuk dalam kategori tersebut.

Jangan membuat Prejudice/prasangka yang over-generalised.

Tidak semua orang Yahudi/Amerika/Nasrani/Hindu/Budha/Atheis/Komunis/Muslim Moderat/dll itu adalah “musuh kafir” (dari perintah Allah) atau seburuk yang anda pikirkan.

Masak hanya dengan mendengar kata ‘Yahudi’ saja, sudah timbul rasa takut/jijik/benci/marah besar, meskipun anda belum pernah ketemu orangnya seumur hidup anda? Bukankah itu prasangka buruk yang belum tentu benar?

3) Perlakukan sesama manusia dengan jiwa KEMANUSIAAN yang riil.

Jika anda menganggap yang lain (yang berbeda) sebagai “manusia”, bukan sebagai “musuh kafir” (dari perintah Allah), maka kebencian/kekerasan/pembunuhan bisa dihindarkan.

Daripada membunuh mereka, mengapa anda tidak mau SABAR menuntun “musuh kafir”mu ke jalan yang benar? Kenapa anda tidak bisa meMAAFkan “musuh kafir”mu? Jika anda bisa sabar menuntun dan memaafkan keluarga/sesama umatmu, kenapa tidak bisa juga terhadap “musuh kafir”mu?

Bukankah sesungguhnya “musuh” yang riil itu adalah si setan/iblis yang membuat manusia memiliki sifat2 buruk/jahat (eg: mencuri, berzinah, membunuh, pemarah, pendendam, iri hati, pementingan diri, sombong/bangga diri/rasa superior, malas dll)? Berjihadlah dengan benar. Berjihadlah terhadap DIRIMU SENDIRI dengan mengalahkan sifat2 buruk/jahat setan.

4) Jangan lupa menjaga KESEIMBANGAN antara hubungan kita dengan Allah (Vertikal-Spiritualisme) dan hubungan kita dengan SESAMA MANUSIA (Horizontal-Humanisme).

Tidak ada salahnya untuk mengutamakan hubungan Vertikal lebih dari hubungan Horizontal, tapi jangan mengabaikan/membuang hubungan Horizontal tersebut karena keduanya penting dan saling terikat.

Fanatisme agama yang berlebihan menyebabkan orang mengabaikan hubungan horizontal tersebut. Membunuh demi perjuangan/penyebaran agama adalah contohnya. Mencuri barang orang kafir demi pembangunan masjid/penyebaran agama/perjuangan agama adalah contohnya. Meninggalkan/menghilang dari istri dan anak tanpa memberikan nafkah (tanpa menyelesaikan proses cerai) demi mengikuti agama adalah contohnya.

5) Bijaksanalah dalam membedakan “perintah Allah” yg benar dengan “bujukan Iblis” yg menyesatkan.

Allah selalu terasosiasikan dengan hal2 yang BAIK. Sedangkan Iblis selalu terasosiasikan dengan hal2 yang BURUK/JAHAT.

Apakah membunuh sesama umat manusia adalah hal yang baik? Sering orang dibutakan, sehingga ‘membunuh sesama manusia demi perjuangan agama’ dianggap sebagai perintah Allah yang baik. Sesungguhnya Allah lebih menyukai adanya keseimbangan antara hubungan vertikal dan horizontal, daripada hubungan vertikal tanpa horizontal.

6) Jangan melakukan terror/kebencian/kekerasan kepada orang yang tak bersalah/berdosa KEPADA DIRIMU SENDIRI.

Misalkan tetanggamu itu memiliki keyakinan yang berbeda, sehingga bisa digolongkan sebagai kategori “musuh kafir”,  dan terjadi peristiwa di Timur Tengah yg merugikan golongan agamamu. Apakah benar jika anda meresponi peristiwa di Timur Tengah tersebut dengan membenci tetanggamu sendiri (atas dasar solidaritas sesama umat beragama), meskipun dia adalah tetangga yang ramah dan suka membantu?

Jika hanya pemerintah asing yg melakukan tindakan yang merugikan golongan agamamu, apakah semua rakyat/suku/ras dari negara tersebut turut bersalah? Lawanlah pemerintah asing (correct target) tersebut, tapi bukan semua rakyat lainnya yang tidak bersalah (wrong target). Belajarlah mengidentifikasikan target yang benar.

Banyak orang melakukan terror/kebencian/kekerasan dengan alasan solidaritas. Tapi, ada banyak cara untuk mewujudkan tindak solidaritas tersebut: cara yang baik sampai cara yang buruk (terror/kebencian/kekerasan). Bersolidaritaslah dengan cara yang baik, bukan dengan cara yang buruk. Tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan (Qs Al-Ma’idah 2).

7) Belajarlah MEMAAFKAN orang yang bersalah kepadamu. Jika tidak bisa memaafkan, setidaknya berlakulah adil/seimbang/SETARA dalam PEMBALASANmu.

Masak orang menghina/mengejek/memfitnah anda dengan mulut, tapi dibalas dengan kekerasan/dibunuh (pakai tangan/senjata).

Masak setelah kalah berargumentasi (atau ketidakmampuan berargumentasi) mulut secara logika, lalu langsung menggunakan kekerasan (tangan/senjata), dan ekstrimnya membunuh lawannya.

Bagaimana jika sebaliknya, apakah anda senang diperlakukan seperti begitu?

Balaslah mulut dengan mulut, jangan dengan tangan/senjata.

8) Bedakan antara “Hukum Allah” dengan “Hukum Manusia”. Dan Jangan main hakim sendiri.

Apa yang tertera di kitab suci masuk dalam naungan “hukum Allah”. Juga penghinaan terhadap Allah/kitab suci/nabi sudah masuk dalam kategori “hukum Allah”.

Apa yang tertera di Undang2 negara masuk dalam “Hukum Manusia”.

Sebenarnya, Penghakiman dan hukuman Allah hanya bisa dilakukan oleh ALLAH SENDIRI, bukan dilakukan oleh setiap umatnya. Jadi: Jangan MAIN HAKIM SENDIRI. Kenapa anda kurang iman dan ragu atas kebesaran, keadilan & kuasa Allah dalam memberikan penghukumanNya? Tidak bisakah Allah melenyapkan manusia yg melawanNya? Allah yang “kecil dan palsu” selalu bergantung pada manusia untuk melenyapkan musuh Allah. Tetapi, Allah yg “besar dan benar” bisa melenyapkan musuh Allah dengan tangannya sendiri.

Juga bukankah HANYA PEMERINTAH saja yang berhak melakukan pengadilan dan hukuman terhadap “Hukum Manusia”, bukan oleh setiap warga negaranya? Jadi: Jangan MAIN HAKIM SENDIRI.

Jangan anda menghakimi orang lain kalau anda tidak mau dihakimi.

9) Jauhi KEYAKINAN “jalan pintas” masuk ke surga yang keliru.

Semua orang ingin masuk surga.

Sesungguhnya jalan masuk ke surga itu sulit; penuh dengan cobaan/tantangan; perlu banyak waktu; perlu amal yang banyak; perlu ketekunan, ketabahan, kesabaran dan keimanan yang kuat.

Tetapi, sayangnya manusia lebih suka “jalan pintas”: lebih mudah, lebih cepat, dll.

Jihad sering disalahgunakan oleh kelompok radikal sebagai basis “jalan pintas” masuk ke surga.

Coba pikirkan: kalau anda bisa langsung masuk surga melalui mati syahid dalam aksi jihad membunuh orang kafir (dengan dalih perjuangan/pembelaan/penyebaran agama), untuk apa anda susah2 menyempurnakan dirimu dari sifat2 iblis/jahat (pemarah, pendendam, iri hati, pementingan diri, sombong/bangga diri/rasa superior, malas dll) setiap hari dan seumur hidupmu????

Coba dibalik: Untuk apakah dituliskan banyak ayat2 yang mengajarkan kebaikan/keadilan/kebenaran, tapi semuanya itu bisa di-short-cut dengan satu aksi jihad yang cepat dan mudah? Bukankah penulisan ayat2 baik tersebut sia2 karena tidak ada kesempatan untuk diamalkannya? Tidak ada gunanya suatu agama, jika hanya diajarkan tapi tak diamalkan/dipraktekkan.

Sesungguhnya Islam itu ingin mengamalkan BANYAK kebaikan, maka jangan mudah terpancing dengang “jalan pintas”. Jihad yang benar selalu mengamalkan BANYAK kebaikan.

Jangan ingin masuk surga tetapi menyengsarakan orang lain.

Bukankah ini sama seperti tindakan seorang yang egois (pokoknya saya selamat, dan saya tak peduli kalau yang lain mati). Bukankah lebih mulia jika anda mati syahid tanpa merugikan/membinasakan orang lain?

10) Jangan memperburuk/mencemarkan citra agamamu sendiri dengan melakukan perkataan/perbuatan yang tidak semestinya.Besarkanlah citra agamamu dengan melakukan perkataan/perbuatan yang baik.

Jangan melakukan pelanggaran/kejahatan dengan menunjukkan simbol/ciri2 agamamu sendiri (kitab suci,baju, peci/topi, jilbab, teriak2 ALLOH HUAKBAR, dll), kalau anda tidak ingin agamamu diasosiasikan dengan pelanggaran/kejahatan tersebut.

Contoh ringan: Naik motor ke jalan raya melanggar lalu lintas tanpa menggunakan helm, tapi hanya pakai jilbab/peci.

Jangan MENCEMARKAN nama ALLAHmu sendiri dengan SEMBARANGAN. Itu adalah DOSA YANG TAK BISA DIAMPUNI.

Ucapkan nama ALLAHmu dengan penuh kerendahan hati, suci diri, rasa hormat, sopan, dan lemah lembut; bukan dengan rasa benci, amarah, dendam, iri hati, keras hati.

Contoh berat: Setelah membunuh orang tak berdosa/membakar kantor pemerintahan, lalu teriak2 nama ALLAHmu ALLOH HUAKBAR dengan penuh amarah dan kebencian.

Jika anda sendiri yang mencemarkan agama anda melalui perbuatan tak terpuji (dan menunjukkan ciri2/simbol agama anda), janganlah marah/defensive/menuduh orang lain sebagai orang yang mencemarkan (atau memfitnah) agama anda.

Belajarlah introspeksi diri dan tidak sembarangan menuduh orang lain/mencari “kambing hitam”.

 

 

 

 

 

Mohon maaf jika ada kekurangan.

Pedoman ini ditujukan HANYA untuk golongan Islam yang berhaluan keras & berpikiran sempit (Radikal) supaya mereka sadar dan berbalik ke jalan yang benar.

 

 

The aboved is sponsored.

Did you like this? Share it: